Senin, 04 April 2011

KUDUS TERCINTA

Kabupaten Kudus berada di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibukotanya adalah Kudus, letaknya di pantai utara timur Jawa Tengah diantara Semarang dan Surabaya. Kudus terbagi atas 5 wilayah yaitu Kudus Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Pusat. Sebagian besar wilayah Kudus adalah dataran rendah dan di wilayah Utaranya terdapat pegunungan. Untuk mencapai Kabupaten Kudus anda bisa terlebih dulu ke daerah Jawa Tengah.  Kalau dari Semarang, Kota Kudus jaraknya sekitar 40 km atau 1,5 jam ditempuh dengan mobil atau transpotasi umum. Kota yang berulang tahun setiap tanggal 23 September ini terkenal sebagi kota Wali. Hal ini karena sejarah kota Kudus terkait dengan  dua tokoh wali Islam di Indonesia yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria yang dulunya menyebarkan agama Islam di Kudus. Penyebaran Islam di Kudus oleh kedua wali ini terekam dalam skrip yang disimpan di Masjid Aqsa Kudus.
 Menurut sejarahnya, asal-usul nama Kudus diambil dari pengalaman seorang ulama besar, Dja'far Sodiq, yang pernah beribadah Haji sambil mengajar di Tanah Arab. Ceritanya, ketika Dja'far Sodiq sedang mengajar di Arab terjadilah sebuah wabah penyakit yang berbahaya. Wabah tersebut kemudian dapat diredakan oleh Dja'far Sodiq. Berkat jasanya ini Dja'far diberi  hadiah batu yang berasal dari Kota Baitul Makdis atau Al-Quds. Batu itu kemudian dibawa pulang dan kota tempat Dja'far Sodiq tinggal dinamakan Kudus. Dja'far kemudian terkenal dengan nama Sunan Kudus.
 Selain terkenal sebagai kota Wali, Kudus juga disebut-sebut sebagai kota Santri. Ini berkaitan dengan Kudus yang menjadi pusat penyebaran Islam di Indonesia pada abad ke pertengahan. Tentu saja penyebaran agama islam ini dilakukan oleh dua dari sembilan Wali Nusantara yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sunan Kudus terkenal sebagai salah seorang ulama besar yang menyebarkan Islam di Kudus. Beliau terutama ahli dalam ilmu Tauhid, Usul, Hadits, Sastra Mantiq, dan Ilmu Fiqih. Sedangkan Sunan Muria terkenal lebih suka mendidik rakyat jelata, para pedagang, nelayan, dan pelaut. Beliau juga memasukan ajaran-ajaran Islam kedalam pertunjukan seni gamelan Jawa.
 Kota Kudus memiliki beragam potensi pariwisata. Ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus ,Abdul Hamid, mengatakan potensi wisata di kudus diantaranya wisata alam dan wisata ziarah.
 "Ya memang kalo wisata itu sebetulnya kan macem-macem ya. Ada wisata alam, kebetulan di Kudus memang juga punya wisata alam, panorama alam Gunung Muria disana memang ada air terjun, ada Rahtawu bahkan juga disana ada namanya Rejenu itu air tiga rasa. Air itu rasanya sampe tiga macem. Dan di Kudus juga ada wisata ziarah. Nah ini lumayan yang justru menjadi potensi agak besar tu wisata ziarah. Karena kebetulan dari 9 Wali Songo itu di Kudus ada dua wali yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Tapi di Kudus juga ada situs Pati Ayam yang sekarang sedang dikembangkan."
Selain panorama alam yang menawan, ada juga Masjid Kudus yang juga menjadi objek wisata potensial. Masjid ini dibangun pada abad ke 16 dengan gaya arsitektur campuran Jawa dan Hindu. Mulanya masjid ini diberi nama Masjid Al-Aqsa oleh Sunan Kudus. Menurut cerita sepulang Sunan Kudus berkunjung ke Masjid Al-Aqsa di Palestina, beliau membawa batu yang kemudian dijadikan batu pertama pada pendirian Masjid. Namun dalam perkembangannya, Masjid Al-Aqsa di Kudus lebih terkenal dengan nama Masjid Kudus.
 Gaya arsitektur Masjid Kudus sangat unik karena merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan Hindu. Pada Masjid Kudus terdapat bangunan monumental berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit dan makam dari Sunan Kudus. Selain karena ukurannya sangat besar, keunikan arsitekturnya membuatnya sangat spesial dan tidak dimiliki oleh masjid manapun di dunia. Ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Abdul Hamid, menjelaskan bahwa  Perpaduan Jawa-Hindu ini terjadi karena ketika Sunan Kudus menyebarkan Islam, agama Hindu sudah lebih dulu dianut oleh masyarakat Jawa Tengah. Sebagian budaya Hindu dipertahankan oleh Sunan Kudus untuk memudahkannya menyebarkan ajaran Islam.
 "Ya Hindu. Ini memang bangunan Hindu. Dahulu kan cara pinternya Sunan Dja'far Sodiq namanya, Sunan Kudus itu pada waktu dia berdakwah mendekati orang-orang hindu, dia mau masuk kesana ke tempat suci juga membuat cucian kaki itu, diabadikan juga sampai sekarang. Sebetulnya masuk ke masjid tu ndak perlu sesuci itu, itu kan adat Hindu sebetulnya. Cukup keran-keran. Di Arab gak ada kobokan kaki. Itu Hindu. Nah dia memang sedikit-sedikit cara memasukan. Jadi dulu dia kan masih percaya dengan dinamisme, animisme. Benda-benda sakral itu diganti. "Udah tak ganti dengan jimat alimat Sodho". "Opo itu kalimat Sodho?" Ya ndak tau padahal alimat Sodho ya itu kalimat Syahadat. "Ini lebih ampuh, lebih...". Kemudian cara dia mendekati, bangunan dari Hindu, dia mendekati orang Hindu, membuat menara. Diatasnya diberi jidur untuk panggilan azan sholat. Dibuat bangunan diatas ini”,ungkapnya
Masjid Kudus berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Jaraknya hanya 1,5 km dari pusat kota. Di lingkungan masjid terdapat fasilitas yang cukup seperti, tempat parkir, warung makan, toko-toko suvenir, dan warung telekomunikasi dan internet. Waktu favorit untuk mengunjungi Masjid Kudus adalah pada bulan Ramadhan karena pada bulan ini Masjid ramai dikunjungi oleh umat islam dari seluruh Indonesia untuk beribadah. Jadi jika anda datang pada bulan Ramadhan, anda juga dapat melihat tradisi dan budaya masyarakat pengguna Masjid Kudus.
 Objek wisata lainnya yang menarik di Kudus adalah museum Kretek. Penggagas ide musium rokok terbesar di Indonesia ini adalah Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu, H. Soepardjo Roestam yang memandang Kudus sebagai kota industri Kretek karena produksinya terbesar di Indonesia. Selanjutnya museum ini diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1986. Anda dapat menemui Musium Kretek di Jalan Getas Pejaten 155, sekitar 3 km kea rah selatan dari pusat kota Kudus.
 Musium Kretek memiliki potensi wisata pendidikan, penelitian, dan hiburan.  Di museum ini anda bisa mempelajari sejarah Rokok Kretek Kudus dari era Raja Rokok Kretek Kudus, Niti Semito samapai dengan perkembangan industri kretek saat ini. Anda juga dapat mengenal mesin-mesin pembuat kretek tradisional yang disimpan disini. Selain itu, Musium kretek juga menyimpan foto-foto sejarah kretek dan diorama proses produksi kretek tradisional.
 Wisata budaya di Kudus juga tidak kalah menariknya. Kudus memiliki beragam tarian tradisional yang tidak hanya indah dalam gerakan namun juga indah dalam makna. Contohnya saja tari Kretek. Tari yang menggambarkan pembuatan kretek tradisional ini sarat akan nilai filosofis. Para penarinya mengenakan kebaya anggun dengan selendang bergaris hitam dan topi lebar yang artinya kesejahteraan warga kudus. Ada juga Tari Terbang Papat yaitu tari yang melambangkan kebahagiaan muda mudi, dan Tari Cendono Cendani yang berkisah tentang asmara si kembar Cendono dan Cendani. Anda dapat menjumpai tari-tarian ini salah satunya pada parade seni dan budaya pada peringatan hari jadi Jawa Tengah di bulan agustus.
 Wisata budaya khas Kudus sangat beragam. Abdul Hamid, Ketua Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kudus mengatakan Kudus sedang mengembangkan dan mempromosikan tradisi-tradisi asal Kudus.
 "Kalau wisata budaya itu memang di Kudus kita kembangkan. Itu terutama kita menggali potensi tradisi yang ada di masyarakat Kudus. Bahkan memang bupati Kudus mendukung ini, tiap kecamatan ada coba diangkat. Sebagai contoh di Kudus ada tradisi Dandangan. Dandangan setiap menjelang tanggal 1 Ramadhan itu ada Dandangan. Kalau Semarang namanya Dukder gitu ya. Ada juga Kupatan. Kupatan itu kita kemas Pesta Seribu Kupat itu memang membuat kupat 1000. Dari atas Gunung Sunan Muria itu turun ke bawah. Juga berbagai sedekah bumi dan di Wononosojo itu disana ada namanya tradisi Rese'-rese' Sendang itu kita kembangkan memang khas budaya yang masih asri. Kemudian di Ngoram ini ada namanya Ampyang Maulid, sudah kita visualisasikan di Taman Mini. Ada juga itu ya memang bagian dari Masjid sini, itu ada yang namanya Air Salamun,"ungkapnya
 Kudus juga punya kuliner khas daerahnya sendiri. Kudus terkenal dengan panganan dari daging kerbau, diantaranya sate, pindang, dan soto kerbau. Ada juga jenang atau dodol Kudus yang sudah dikenalkan ke mancanegara. Untuk mencicipi panganan khas Kudus, anda dapat mengunjungi salah satu daerah kuliner di Kudus yaitu Taman Bujana. Trn-Ike(11/6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar