Senin, 04 April 2011

PROFIL KOTA KUDUS

Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat kaya raya dengan segala kekayaan alamnya dan keanekaragaman budayanya yang sudah terkenal sejak jaman nenek moyang. Kemashurannya sudah ada dan tercipta sejak raja-raja berkuasa di Bumi Jawa. Tercatat Kerajaan Majapahit dengan Patihnya Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara dengan “Sumpah Palapanya” bahkan konon beberapa negara tetangga juga berhasil ditaklukkan.

Rasanya kita sebagai generasi penerus harus banyak belajar dari para pendahulu agar Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang besar, dihormati dan disegani oleh negara-negara lain di dunia. Sumber daya manusia yang banyak, kekayaan alam melimpah, sampai-sampai Koes Plus menggambarkan indahnya alam Indonesia dalam salah satu lagunya ,” Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman”, adalah modal dasar buat membangun Bangsa ke depan.

Melalui catatan kecil ini saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mengenal dan mencintai salah satu budaya Indonesia melalui Kota Kudus. Kota Kudus yang terkenal dengan Kota Kretek ternyata menyimpan sejarah yang menarik dalam perkembangan kebudayaan di daerah sekitarnya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Potensi wisata, budaya setempat, kulinernya, semua menarik untuk dikaji.

Pada akhirnya saya ingin mengajak semua untuk mencintai dan bangga sebagai Bangsa Indonesia. Siapa lagi kalau bukan para generasi muda sebagai penerus tongkat estafet yang telah diberikan oleh para pendahulu kepada kita.
Kota Kudus
Orang biasanya mengenal Kota Kudus sebagai Kota Kretek dengan PT Djarum sebagai pabrik yang terbesar dan diikuti oleh pabrik-pabrik rokok lainnya. Namun lebih dari itu, Kota Kudus ternyata menyimpan sejarah panjang yang menjadi goresan tinta sejarah peradaban.

Karena terletak di jalur Pantura yang merupakan jalur perdagangan yang vital, kurang lebih 53 km dari Semarang atau sekitar 45 menit lewat perjalanan darat dari Kota Semarang menjadikan Kota Kudus sebagai daerah tujuan dagang dan wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Nama Kudus sendiri berasal dari bahasa Arab al-Quds yang berarti suci, konon Kudus satu-satunya kota di Jawa yang mengadopsi namanya dari bahasa Arab. Walaupun karakter Islam sangat kuat di Kudus, namun pengaruh Hindu masih tetap berlaku, misalnya dilarang menyembelih sapi di dalam wilayah Kota Kudus. Penyebar Islam pertama di Kudus yang bernama Ja’far Shadiq atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus mengetahui bahwa sapi adalah binatang suci Umat Hindu.
Kali Gelis yang mengalir ditengah Kota Kudus membagi wilayah menjadi dua bagian yaitu Kudus Kulon ( Barat ) dan Kudus Wetan ( timur ). Pada masa lampau, wilayah Kudus Kulon didiami oleh para pengusaha, pedagang, petani dan ulama, sedangkan Kudus Wetan dihuni oleh para priyayi, cendikiawan, guru-guru, bangsawan dan kerabat ningrat. Dalam perkembangannya ternyata Kudus Kulon lebih maju.

Masjid Kudus

Masjid Kudus dikenal oleh masyarakat karena bentuk arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dan Hindu. Masjid yang dibangun pada tahun 1549 oleh Ja’far Shadiq memang memilki pesona yang luar biasa. Menara yang terbuat dari bata merah yang aslinya adalah menara peninggalan Hindu yang digunakan sebagai tempat pembakaran mayat para raja dan kaum bangsawan, namun sebagian lain menganggap bahwa menara tersebut adalah menara pengawas dari sebuah rumah ibadat agama Hindu sebelum diubah menjadi masjid.

Menara masjid ini berbentuk seperti Candi Singasari atau Bale Kul-Kul di Bali, sisa peninggalan dari Zaman Hindu yang telah beralih fungsi. Tinggi menara ini kira-kira 17 m dan telah berusia tujuh abad. Bangunan menara terbagi tiga yaitu kaki, badan, dan puncak bangunan. Masjid Kudus tetap mempertahankan bentuk aslinya walaupun telah mengalami beberapa kali pemugaran. Keunikan lain di serambi masjid terdapat sebuah Candi Bentar, penduduk menyebutnya Lawang Kembar yang konon berasal dari Majapahit.

Di belakang masjid adalah makam Ja’far Shadiq dan para pengikutnya yang menempati tanah dua kali lebih luas dari ukuran masjid tersebut. Seperti bentuk gapura depan, memasuki areal taman pemakaman pun yang sudah berumur ratusan tahun tetap cantik dan menarik. Dengan bergaya arsitek Hindu, masing – masing makam tersusun dengan rapi dan dibuat cluster sesuai dengan pangkatnya. Dari golongan prajurit yang paling rendah sampai dengan makam Ja’far Shadiq sendiri yang bertempat di tengah-tengah diantara semua para punggawanya.

Setiap hari selalu saja masjid ini ramai dikunjungi oleh para pengunjung, baik yang hanya sekedar ingin melihat-lihat arsitek bangunan yang unik, maupun yang ingin berziarah ke makam Ja’far Sadiq ( Sunan Kudus ). Selama acara Buka Luwur, yang diadakan tiap tanggal 10 Muharram, tirai yang terdapat di makam ini diganti dan pada saat seperti ini ribuan peziarah akan memadati kawasan makam. Apalagi lokasinya yang terletak di pusat Kota Kudus menjadikan tempat ini sangat mudah diakses, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
Kota Industri Rokok
Kudus juga terkenal karena industri rokoknya dan di kota inilah pertama kali jenis rokok kretek ditemukan oleh seorang penduduk Kudus bernama Nitisemito yang pernah menyatakan bahwa rokok kretek temuannya dapat menyembuhkan penyakit asma. Dia membuat rokok kretek dari tembakau yang dicampur dengan cengkeh yang dihaluskan dan dibungkus dengan daun jagung yang dikenal sebagai rokok klobot. Dia mulai menjual rokok klobot merek Bal Tiga pada tahun 1906.

Nitisemito mempromosikan rokok klobotnya secara intensif dengan menggunakan radio, melakukan tur dengan grup musik bahkan menyebarkan pamflet melalui udara. Akhirnya Kudus berkembang menjadi pusat industri rokok dan pernah tercatat 200 pabrik rokok beroperasi di Kudus dan sekitarnya.

Namun dalam perjalanannya, industri rokok Kudus mengalami rasionalisasi dan hanya tiga perusahaan besar yang mampu menguasai pasaran yaitu ; Bentoel di Malang, Gudang Garam di Kediri dan Djarum di Kudus. Nitisemito termasuk orang yang menjadi korban persaingan industri rokok, ia bangkrut pada tahun 1953.

Saat ini perusahaan rokok kretek utama di Kudus antara lain Djambu Bol, Nojorono, Sukun, dan Djarum. Perusahaan rokok yang terakhir ini adalah yang terbesar di Kudus yang mulai beroperasi sejak tahun 1952. Djarum memiliki pabrik rokok modern yang terletak di Jl. A yani, wisatawan dapat melakukan peninjauan ke pabrik ini tetapi harus meminta ijin terlebih dahulu seminggu sebelumnya. Pabrik rokok Sukun terletak agak di luar kota Kudus. Pabrik rokok ini masih memproduksi rokok klobot yaitu rokok tradisional dimana tembakau digulung dengan daun jagung.
Museum Kretek Kudus
Museum yang didirikan pada tahun 1996 memamerkan sejumlah foto yang menarik mengenai rokok dan alat-alat yang digunakan dalam proses membuat rokok. Museum ini memiliki diorama yang menggambarkan proses produksi rokok kretek; dari penyediaan bahan baku berupa cengkeh, tembakau, daun jagung muda hingga ke proses pengerjaannya dan pemasarannya.

Museum yang terletak di desa Getas Pejaten, sekitar 2 km dari kota Kudus ini buka dari jam 09.00 WIB hingga 16 kecuali Jum’at. Di dekat museum kretek ini terdapat rumah adat Kudus yang terbuat dari kayu penuh ukiran yang merupakan keterampilan masyarakat Kudus yang terkenal. Gaya arsitektur Kudus disebut-sebut berasal dari seorang Imigran dari Cina yang bernama Ling Sing dari abad ke 15.
Gunung Muria
Setelah lelah berkeliling Kota Kudus, silakan mampir untuk menikmati kesejukan Gunung Muria. Gunung Muria terletak 18 km sebelah utara Kota Kudus dan memiliki ketinggian kurang lebih 1700 m. diatas permukaan air laut Selain menampilkan pemandangan khas pegunungan yang indah, keberadaan makam Sunan Muria, air terjun Montel serta bumi perkemahan Hajar semakin menjadi pelengkap tempat ini sebagai salah satu tujuan tempat wisata.

Tempat penginapan sederhana namun lumayan bersih tersedia di shelter terakhir perparkiran mobil. Hotel Pesanggrahan adalah hotel yang dimiliki oleh Pemerintah dan bisa dipakai untuk umum dengan biaya antara Rp 10.000,- sampai dengan Rp 44.000,-. Jika anda ingin menemukan tantangan yang lebih besar, anda bisa mendaki ke Puncak songolikur ( 29 ) yang terletak di atas air terjun Monthel, bisa dipandu oleh pemandu setempat

Asal Usul Kota Kudus

Kota Kudus yang sekarang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Kudus di Provinsi Jawa Tengah, pada zaman dahulu hanyalah sebuah desa kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Kedudukannya tidak dianggap penting, kecuali sebagai salah sate tempat persinggahan lalu lintas ekonomi dari pelabuhan Jepara ke pedalaman Majapahit dan sebaliknya.
Pada suatu saat, bermukimlah ke desa kecil itu seorang pedagang Cina bernama Sun Ging. Selain berdagang, Sun Ging yang ahli ukir itu mengembangkan keterampilannya mengukir sehingga banyaklah orang belajar mengukir di rumahnya. Lama-lama keahlian Sun Ging tersiar sampai ke istana Majapahit sehingga dipanggillah Sun Ging untuk mengukir hiasan-hiasan keraton. Setelah pekerjaan besar itu terselesaikan dengan balk dan memuaskan, ditanyalah Sun Ging oleh sang Raja.
“Hadiah apakah yang engkau inginkan dari Majapahit?”
“Sekiranya diizinkan, berilah hamba sebidang tanah di tempat hamba bermukim selama ini, biarlah hamba kelak mencangkulinya.”
“Mengapa tidak memohon hadiah emas permata atau putri Majapahit yang cantik jelita?” tanya sang Raja kemudian.
“Pada pendapat hamba, sebidang tanah itu sudah sangat berharga bagi hamba sendiri. Tanah itu kelak dapat dicangkuli sampai menghasilkan emas permata. Dengan demikian, hamba tak perlu kembali ke negeri asal yang jauh.”
“Jika tak hendak kembali ke tanah asalmu, apakah engkau sanggup berbakti kepada Majapahit?” kata sang Raja seolah ingin menguji kesetiaan Sun Ging.
“Sekiranya diizinkan, hamba ingin mengabdi sepenuh hati,” jawab ahli ukir itu dengan harapan akan segera menerima hadiahnya. -
Setelah menerima piagam hadiah itu, dengan gembira dan bangga Sun Ging memohon izin kembali ke desanya dengan niat mendirikan sebuah perguruan ukir. Ternyata niat itu pun terkabul, terbukti dengan semakin banyaknya orang yang belajar mengukir di perguruan itu. Kemudian, desa itu terkenal dengan nama Sunggingan, karena berasal dari nama pemiliknya Sun Ging, sedangkan akhiran -an berarti tempat tinggal. Jadi, Sunggingan berarti tempat tinggal keluarga Sun Ging.
Akan tetapi, cerita lain menyebutkan bahwa nama Sunggingan itu berarti tempat orang-orang menyungging yang berarti melukis atau mengukir. Dalam bahasa Jawa, juru sungging berarti ahli lukis atau tukang ukir. Dalam cerita ini disebutkan bahwa pemilik Sunggingan ialah The Ling Sing, yaitu seorang pedagang Cina yang dalam cerita terdahulu bernama Sun Ging.
Keramaian ekonomi desa Sunggingan ternyata terns berkembang walaupun pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur sudah tak terdengar kabarnya. Hal itu memikat perhatian Raden Patah yang sudah
berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak Bintoro di Demak yang tak jauh dari desa itu.
“Desa Sunggingan itu kelak dapat menjadi sebuah kota besar yang penting di dekat Jepara yang sudah berkembang sebagai pelabuhan. Oleh karena itu, perlu segera diislamkan agar dapat mendukung perkembangan Demak Bintoro,” pikir Raden Patah.
Tak lama kemudian, diperintahkanlah kepada Syekh Jafar Sodiq, seorang ulama besar dari Persia, untuk mengislamkan Sunggingan.
Mendengar perintah itu berkemaslah Syekh Jafar Sodiq hijrah dari Demak Bintoro ke desa Sunggingan dengan beberapa orang santri terdekatnya. Sesampai di sana terlihatlah sebuah bangunan pintu gerbang Kerajaan Majapahit yang sudah tidak dipelihara orang. Hal itu justru memberikan ilham bagi Syekh Jafar Sodiq untuk memugarnya kembali agar memikat simpati masyarakat setempat yang masih memeluk agama Hindu sebagai warisan kebesaran Majapahit.
Pada mulanya di gerbang atau gapura itulah Syekh Jafar Sodiq mengundang masyarakat untuk men­dengarkan ajaran-ajaran barn yang disebut Islam. Caranya ialah dengan menambatkan seekor sapi jantan yang gemuk di dekat gerbang itu. Masyarakat pun tertarik menyaksikan sapi yang merupakan hewan terhormat dalam agama Hindu. Setiap kali orang berkerumun di tempat itu, berkhotbahlah Syekh Jafar Sodiq untuk mengajak masyarakat memeluk Islam. Berkat kesabaran, keramahan, dan kewibawaan pribadinya maka dalam waktu singkat sebagian besar penduduk Sunggingan telah memeluk agama Islam, termasuk The Ling Sing sendiri yang kemudian bergelar Kiai Telingsing. Bahkan, Syekh Jafar Sodiq pun akhirnya bermukim di sana dan kelak terkenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Sebagai tokoh syiar Islam yang berasal dari negeri asing, wajarlah Syekh Jafar Sodiq membawa-bawa. keagungan atau kebesaran negerinya sendiri. Hal itu diperlihatkannya dalam membangun sebuah mesjid di dekat gerbang atau gapura desa itu. Pada bagian kiblat mesjid itu dihiasi lempengan-lempengan batu hitam yang berasal dari negeri Persia yang dipersamakan dengan batu Hajar Aswad di Kakbah. Hiasan itu disebutnya Al Kuds yang berarti suci atau keramat. Tak lama kemudian, mesjid itu pun dikenal masyarakat sekitarnya dengan sebutan mesjid Kudus, yaitu sebuah mesjid yang dihiasi lempengan-lempengan batu AlKuds atau batu-batu yang suci.
Apa yang diramalkan Raden Patah ternyata menjadi kenyataan. Setelah Syekh Jafar Sodiq bermukim di desa Sunggingan dan berhasil membangun sebuah pesantren, berkembanglah desa atau wilayah itu. Semakin banyaklah orang dari berbagai daerah lain yang berniat belajar mengaji dan mencari kehidupan barn dengan bertani, berdagang, mengukir, dan sebagainya. Desa Sunggingan yang dirintis oleh The Ling Sing berkembang menjadi pesantren dan kota yang oleh penduduk setempat disebut Kudus, dan Syekh Jafar Sodiq pun kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Gerbang atau gapura Majapahit yang telah dipugar oleh Syekh Jafar Sodiq ternyata menjadi salah satu ciri khas kota Kudus. Bangunan itu terkenal dengan sebutan Menara Kudus, aslinya berada di dekat mesjid Sung­gingan, sedangkan tiruannya didirikan di depan sebuah pusat perbelanjaan kota Kudus. Ternpat lain yang bersangkutan dengan asal usul kota itu ialah makam Kiai Telingsing yang nama aslinya The Ling Sing. Makam itu terdapat di desa Sunggingan, sekarang hanya sebuah desa di dalam wilayah kota Kudus yang semakin semarak perkembangannya.

KUDUS TERCINTA

Kabupaten Kudus berada di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibukotanya adalah Kudus, letaknya di pantai utara timur Jawa Tengah diantara Semarang dan Surabaya. Kudus terbagi atas 5 wilayah yaitu Kudus Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Pusat. Sebagian besar wilayah Kudus adalah dataran rendah dan di wilayah Utaranya terdapat pegunungan. Untuk mencapai Kabupaten Kudus anda bisa terlebih dulu ke daerah Jawa Tengah.  Kalau dari Semarang, Kota Kudus jaraknya sekitar 40 km atau 1,5 jam ditempuh dengan mobil atau transpotasi umum. Kota yang berulang tahun setiap tanggal 23 September ini terkenal sebagi kota Wali. Hal ini karena sejarah kota Kudus terkait dengan  dua tokoh wali Islam di Indonesia yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria yang dulunya menyebarkan agama Islam di Kudus. Penyebaran Islam di Kudus oleh kedua wali ini terekam dalam skrip yang disimpan di Masjid Aqsa Kudus.
 Menurut sejarahnya, asal-usul nama Kudus diambil dari pengalaman seorang ulama besar, Dja'far Sodiq, yang pernah beribadah Haji sambil mengajar di Tanah Arab. Ceritanya, ketika Dja'far Sodiq sedang mengajar di Arab terjadilah sebuah wabah penyakit yang berbahaya. Wabah tersebut kemudian dapat diredakan oleh Dja'far Sodiq. Berkat jasanya ini Dja'far diberi  hadiah batu yang berasal dari Kota Baitul Makdis atau Al-Quds. Batu itu kemudian dibawa pulang dan kota tempat Dja'far Sodiq tinggal dinamakan Kudus. Dja'far kemudian terkenal dengan nama Sunan Kudus.
 Selain terkenal sebagai kota Wali, Kudus juga disebut-sebut sebagai kota Santri. Ini berkaitan dengan Kudus yang menjadi pusat penyebaran Islam di Indonesia pada abad ke pertengahan. Tentu saja penyebaran agama islam ini dilakukan oleh dua dari sembilan Wali Nusantara yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sunan Kudus terkenal sebagai salah seorang ulama besar yang menyebarkan Islam di Kudus. Beliau terutama ahli dalam ilmu Tauhid, Usul, Hadits, Sastra Mantiq, dan Ilmu Fiqih. Sedangkan Sunan Muria terkenal lebih suka mendidik rakyat jelata, para pedagang, nelayan, dan pelaut. Beliau juga memasukan ajaran-ajaran Islam kedalam pertunjukan seni gamelan Jawa.
 Kota Kudus memiliki beragam potensi pariwisata. Ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus ,Abdul Hamid, mengatakan potensi wisata di kudus diantaranya wisata alam dan wisata ziarah.
 "Ya memang kalo wisata itu sebetulnya kan macem-macem ya. Ada wisata alam, kebetulan di Kudus memang juga punya wisata alam, panorama alam Gunung Muria disana memang ada air terjun, ada Rahtawu bahkan juga disana ada namanya Rejenu itu air tiga rasa. Air itu rasanya sampe tiga macem. Dan di Kudus juga ada wisata ziarah. Nah ini lumayan yang justru menjadi potensi agak besar tu wisata ziarah. Karena kebetulan dari 9 Wali Songo itu di Kudus ada dua wali yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Tapi di Kudus juga ada situs Pati Ayam yang sekarang sedang dikembangkan."
Selain panorama alam yang menawan, ada juga Masjid Kudus yang juga menjadi objek wisata potensial. Masjid ini dibangun pada abad ke 16 dengan gaya arsitektur campuran Jawa dan Hindu. Mulanya masjid ini diberi nama Masjid Al-Aqsa oleh Sunan Kudus. Menurut cerita sepulang Sunan Kudus berkunjung ke Masjid Al-Aqsa di Palestina, beliau membawa batu yang kemudian dijadikan batu pertama pada pendirian Masjid. Namun dalam perkembangannya, Masjid Al-Aqsa di Kudus lebih terkenal dengan nama Masjid Kudus.
 Gaya arsitektur Masjid Kudus sangat unik karena merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan Hindu. Pada Masjid Kudus terdapat bangunan monumental berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit dan makam dari Sunan Kudus. Selain karena ukurannya sangat besar, keunikan arsitekturnya membuatnya sangat spesial dan tidak dimiliki oleh masjid manapun di dunia. Ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Abdul Hamid, menjelaskan bahwa  Perpaduan Jawa-Hindu ini terjadi karena ketika Sunan Kudus menyebarkan Islam, agama Hindu sudah lebih dulu dianut oleh masyarakat Jawa Tengah. Sebagian budaya Hindu dipertahankan oleh Sunan Kudus untuk memudahkannya menyebarkan ajaran Islam.
 "Ya Hindu. Ini memang bangunan Hindu. Dahulu kan cara pinternya Sunan Dja'far Sodiq namanya, Sunan Kudus itu pada waktu dia berdakwah mendekati orang-orang hindu, dia mau masuk kesana ke tempat suci juga membuat cucian kaki itu, diabadikan juga sampai sekarang. Sebetulnya masuk ke masjid tu ndak perlu sesuci itu, itu kan adat Hindu sebetulnya. Cukup keran-keran. Di Arab gak ada kobokan kaki. Itu Hindu. Nah dia memang sedikit-sedikit cara memasukan. Jadi dulu dia kan masih percaya dengan dinamisme, animisme. Benda-benda sakral itu diganti. "Udah tak ganti dengan jimat alimat Sodho". "Opo itu kalimat Sodho?" Ya ndak tau padahal alimat Sodho ya itu kalimat Syahadat. "Ini lebih ampuh, lebih...". Kemudian cara dia mendekati, bangunan dari Hindu, dia mendekati orang Hindu, membuat menara. Diatasnya diberi jidur untuk panggilan azan sholat. Dibuat bangunan diatas ini”,ungkapnya
Masjid Kudus berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Jaraknya hanya 1,5 km dari pusat kota. Di lingkungan masjid terdapat fasilitas yang cukup seperti, tempat parkir, warung makan, toko-toko suvenir, dan warung telekomunikasi dan internet. Waktu favorit untuk mengunjungi Masjid Kudus adalah pada bulan Ramadhan karena pada bulan ini Masjid ramai dikunjungi oleh umat islam dari seluruh Indonesia untuk beribadah. Jadi jika anda datang pada bulan Ramadhan, anda juga dapat melihat tradisi dan budaya masyarakat pengguna Masjid Kudus.
 Objek wisata lainnya yang menarik di Kudus adalah museum Kretek. Penggagas ide musium rokok terbesar di Indonesia ini adalah Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu, H. Soepardjo Roestam yang memandang Kudus sebagai kota industri Kretek karena produksinya terbesar di Indonesia. Selanjutnya museum ini diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1986. Anda dapat menemui Musium Kretek di Jalan Getas Pejaten 155, sekitar 3 km kea rah selatan dari pusat kota Kudus.
 Musium Kretek memiliki potensi wisata pendidikan, penelitian, dan hiburan.  Di museum ini anda bisa mempelajari sejarah Rokok Kretek Kudus dari era Raja Rokok Kretek Kudus, Niti Semito samapai dengan perkembangan industri kretek saat ini. Anda juga dapat mengenal mesin-mesin pembuat kretek tradisional yang disimpan disini. Selain itu, Musium kretek juga menyimpan foto-foto sejarah kretek dan diorama proses produksi kretek tradisional.
 Wisata budaya di Kudus juga tidak kalah menariknya. Kudus memiliki beragam tarian tradisional yang tidak hanya indah dalam gerakan namun juga indah dalam makna. Contohnya saja tari Kretek. Tari yang menggambarkan pembuatan kretek tradisional ini sarat akan nilai filosofis. Para penarinya mengenakan kebaya anggun dengan selendang bergaris hitam dan topi lebar yang artinya kesejahteraan warga kudus. Ada juga Tari Terbang Papat yaitu tari yang melambangkan kebahagiaan muda mudi, dan Tari Cendono Cendani yang berkisah tentang asmara si kembar Cendono dan Cendani. Anda dapat menjumpai tari-tarian ini salah satunya pada parade seni dan budaya pada peringatan hari jadi Jawa Tengah di bulan agustus.
 Wisata budaya khas Kudus sangat beragam. Abdul Hamid, Ketua Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kudus mengatakan Kudus sedang mengembangkan dan mempromosikan tradisi-tradisi asal Kudus.
 "Kalau wisata budaya itu memang di Kudus kita kembangkan. Itu terutama kita menggali potensi tradisi yang ada di masyarakat Kudus. Bahkan memang bupati Kudus mendukung ini, tiap kecamatan ada coba diangkat. Sebagai contoh di Kudus ada tradisi Dandangan. Dandangan setiap menjelang tanggal 1 Ramadhan itu ada Dandangan. Kalau Semarang namanya Dukder gitu ya. Ada juga Kupatan. Kupatan itu kita kemas Pesta Seribu Kupat itu memang membuat kupat 1000. Dari atas Gunung Sunan Muria itu turun ke bawah. Juga berbagai sedekah bumi dan di Wononosojo itu disana ada namanya tradisi Rese'-rese' Sendang itu kita kembangkan memang khas budaya yang masih asri. Kemudian di Ngoram ini ada namanya Ampyang Maulid, sudah kita visualisasikan di Taman Mini. Ada juga itu ya memang bagian dari Masjid sini, itu ada yang namanya Air Salamun,"ungkapnya
 Kudus juga punya kuliner khas daerahnya sendiri. Kudus terkenal dengan panganan dari daging kerbau, diantaranya sate, pindang, dan soto kerbau. Ada juga jenang atau dodol Kudus yang sudah dikenalkan ke mancanegara. Untuk mencicipi panganan khas Kudus, anda dapat mengunjungi salah satu daerah kuliner di Kudus yaitu Taman Bujana. Trn-Ike(11/6)